“By Any Means” Siap Gebrak Bioskop: Film Thriller-Aksi Terbaru yang Pertaruhkan Batas Moral
- account_circle Nazwa Alfani Mulyadi
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cr : Instagram
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumi24Jam– By Any Means menghadirkan kisah thriller kriminal historis dari babak kelam sejarah Amerika Serikat. Elegance Bratton menyutradarai film ini. Selain itu, ia menyoroti keputusan kontroversial FBI pada era 1960-an. Pada masa itu, mereka merekrut Gregory Scarpa Sr. (Mark Wahlberg)—pembunuh bayaran keluarga mafia Colombo—secara rahasia. Tujuannya tentu untuk menyelidiki pembunuhan aktivis hak-hak sipil di Mississippi. Ketika birokrasi penegakan hukum menghadapi jalan buntu akibat teror kelompok rasis, pemerintah akhirnya memilih memakai taktik interogasi brutal ala mafia demi membongkar kebenaran. Bahkan, langkah ekstrem ini diambil tanpa memedulikan risiko besar yang mengancam integritas institusi negara.
Gesekan Moralitas Dua Kutub
Inti cerita film ini menyoroti hubungan berbahaya antara Wayne Strider (Yahya Abdul-Mateen II), agen FBI muda, dan sang algojo mafia. Di satu sisi, Strider selalu mempertahankan prosedur hukum yang bersih. Sebaliknya, Scarpa bekerja tanpa aturan apa pun. Alhasil, kolaborasi paksa ini melahirkan benturan moral yang tajam. Strider pun harus menerima kenyataan pahit. Pada akhirnya, batas antara penegak keadilan dan pelaku kejahatan melebur demi menggapai tujuan akhir mereka. Singkat kata, mereka terpaksa berjalan di atas garis tipis antara kebenaran dan dosa besar.
Daya Tarik Aksi dan Kritisisme
Dari sisi narasi, film ini menyajikan tensi investigasi yang padat tanpa melodrama berlebihan. Terlebih lagi, para aktor utamanya membawakan peran dengan sangat baik. Melalui akting tersebut, mereka mampu menghidupkan kembali ketegangan era segregasi rasial. Terlebih, sinematografi yang kelam semakin memperkuat atmosfer mencekam di setiap adegan. Secara keseluruhan, By Any Means berhasil menyuguhkan tontonan laga investigasi berbobot. Dengan demikian, film ini mendorong penonton merenungkan kembali batasan etika dalam menegakkan keadilan di tengah dunia yang korup.
- Penulis: Nazwa Alfani Mulyadi

Saat ini belum ada komentar